Selasa, 17 April 2012

Bismillah….

Langkahku terayun menyusuri liku kehidupan

Dalam mencari Cinta yang dipenuhi ketulusan

Bukan cinta yang melemahkan dan menggelapkan

Namun, Cinta yang menguatkan dan terus menyinari kehidupan

Cinta….

Akan aku gapai engkau wahai Cinta

Walau aku harus terluka dan merana

Aku tak akan pernah bergeming untuk menunda langkah ini

Aku yakin mampu wujudkan saat-saat indah itu

Saat di mana cinta itu telah menyatu

Maka, kita akan ukir bersama damai dalam jiwa..


Dalam ketidak pastian

18 April 2012

Minggu, 08 April 2012

Dalam Penantian yang Suci

Oleh. NN (dengan sedikit penggubahan)

Aku menunggumu Calon Pendamping Hidupku.
Aku merindukanmu karena Allah.
Namamu selalu ada dalam do'a-do'aku pada-Nya
datanglah bersama Imanmu yang tangguh.

Ini bukan untaian rahasia dalam hatiku untuk memikatmu.

Mengapa aku berkata seperti ini?
Karena aku tahu… mengucapkan ikrar suci itu menyempurnakan hidupku. Dan… Pernikahan adalah sunnah Rasulullah dan Rasulullah adalah kekasih Allah. Cinta adalah anugerah-Nya yang ditumbuhkan di hati orang-orang yang dikehendaki-Nya. Bagaimana aku tidak merindukan kehadiranmu wahai kekasihku?....
Miss you to come in my life???

Aku menunggumu karena Allah.
Ini bukan rajutan perasaan untuk sebuah penantian.

Mengapa aku berkata seperti ini?
Karena aku tahu, diriku terlalu banyak kekurangan dan karenanya aku butuh seseorang yang lebih halus untuk menaklukkan hatiku yang tegas dan yang lebih tangguh untuk menguatkan hatiku yang lemah dengan ijin-Nya…

Aku tahu terlalu banyak yang harus aku perbaik. Karenanya, aku menunggumu untuk menjadi pendamping hidupku. aku menunggumu untuk lebih membimbingku dengan tulusmu. untuk lebih mengajariku dengan sabar hingga kenikmatan imanku terhadap-Nya semakin dalam dengan ijinNya…. di setiap harinya…untuk selama-lamanya ..Aamiin…

Aku tahu dalam hatiku. aku tak ingin hidup sendiri. Karenanya, aku berharap…Allah menganugerahkan padaku seorang Imam untuk berbagi banyak hal dan menerima apa adanya diriku beserta keluargaku.

Duhai Kekasih… Bila Engkau benar-benar ada dalam hidupku. Semoga Allah memantapkan hati kita dan mendekatkan kita di jalan yang lebih Ia Ridhoi

Aku mencintaimu karena Allah,
Aku merindukanmu karena Allah,
dan aku menunggumu karena Allah…

Di raga manakah jiwamu bersemayam???
Dari sini aku menatap jejakmu dengan raga yang menari bersama angin… di antara gemuruh ombak kerinduanku.

Rasakan getarku yang membiarkan selarik bintang menemanimu serta untuk menjemputku. Meski mungkin tak ada peta yang dapat dirimu genggam… ijinkan bisik hatiku sebagai petunjuk arahmu dengan ijin-Nya…

Ya Rabbi…
Redamkanlah rinduku di jalan yang terbaik menurut Engkau untuk dunia dan akhiratku.Bila kerabat dan teman tak lagi cukup untuk menemani kehidupanku, maka hari itu adalah yang aku tunggu…

Saat kau datang MENGKHITBAHKU..

Rabu, 11 Januari 2012

Senyum Indahmu Remajakan Cintaku

Oleh: Ahmad SaHid Thea

Di sudut senja aku termenung menanti kabar tentangmu, tak ada dering panggilan maupun SMS yang membuyarkan keseriusanku. Jauh tatapanku menembus kabut senja yang mulai membekukanku.... maklum aku memang belum terbiasa dengan udara di sekitar puncak Gisaga. Rasa cintaku semakin hari semakin menua, bahkan mulai berguguran dan akan sampai pada titik pemudaran yang sempurna. Renta dan memudar laksana salju yang diterpa teriknya mentari akibat ulah manusia yang tak mampu menjaga keasrian bumi. Langkah yang semenjak 24 purnama lalu aku nantikan, di sini. Tempat dimana janji itu aku buat bersamanya, tepat jam 16:24 dia akan kembali dengan sejuta harapannya.

Kabut senja terus menyerbu sukmaku, membuatku mengencangkan baju hangat dan memakai sarung tangan berbahan kulit warna coklat yang semenjak 24 purnama lalu menjadi pengganti sapu tangan pemberian Ibuku (sapu tangan yang tetap ada di lemariku) yang menjadi penyemangat dan pengingat jalan hidup agar tak pernah tersesat.

Tepat jam 16:20. Dia pasti akan datang menyapaku dan kami akan memandang indahnya malam ini bersama... menyambut bulan purnama yang dihiasi bintang-gemintang.Alhamdulillah... akhirnya ada langkah kaki menaiki anak-anak tangga menuju tempatku berdiri melukiskan masa 24 purnama lalu.. Aku balikan badan tegapku, menyambut Sang Hawa yang menepati janjinya.. Subhanallah.... dia bawakan hadiah terindah untukku.. Senyum yang tulus dan ikhlas ia bawakan untukku, kugapai tangannya seraya berucap. "Ahlan wa sahlan bihuduruki ya Quratal 'aini" senyumnya kubalas dengan rasa syukur pada sang Khaliq pencipta makluk terindah ini. "Ahlan bika ya Qalbi" ia menjawabku..

Senjapun seakan cepat berganti gulita.. azan magrib berkumandang.. kami bersama melangkah menuju mesjid kecil di puncak Gisaga. Berwudlu.... Sang Imam telah siap mengangkat tangannya seraya bertakbir.. "Allahu Akbar" khusyuk kami bermunajat dan memanjat syukur pada-Nya..

Senyum Indah Anugrah Sang Khaliq Remajakan Cintaku Padamu Kasihku.:-)

Senin, 02 Januari 2012

Tersenyum Sendiri Dalam Ceritaku


Oleh. Ahmad SaHid Thea

Bersama rintik kesejukan aku terbangun di subuh itu, kesejukan yang hampir saja buat aku menarik selimutku kembali. Aku sapa Tuhan dengan asmanya serta takbir pengagungan atas segala karunianya padaku. Titik-titik itu terus melaju hingga sang surya tetap enggan menyapaku, mungkin karena ia malu oleh grimis yang sedari subuh menguasai pagi dan tetap menguasainya.

Aku sapa jiwaku sengan seberkas ingatan tentang dirinya (Gadis Impianku). Kuraih Hp tepat di sudut sejadahku (Aku sadari betapa aku telah dikuasai oleh alat komunikasi duniawi yang membuatku selalu ingin menyapanya lebih pagi. Namun, batin ini tak ikhlas karena 13 purnama lalu, di sana ada al-Qur'an dan Tasbih yang selalu mengantarkan gundahku pada sang penggenggam subuh itu).

Kawan...! Tahu Tidak?
Pagi itu aku begitu merindukannya hingga membuat semua ingatanku terpatri menjadi satu dengan dirinya. Senyumku pun tersungging, karena usahaku tuk menghubunginya tetap tak terindakhak. dia tetap tak menjawab panggilanku.

Ingatanku tetap bersamanya...
Dan Tahu tidak kawan...? Hemmmmm
Aku tersenyum kembali karena hampir setengah perjalanku menuju kantor...
Dompetku ketinggalan (Aku hampir melupakan segalanya karena dia).
Aku kembali ke kamar sunyi sahabat kegelisahanku.

Bertemankan hujan yang terus mengguyur, akhirnya aku sampai ke kantor, tepat jam 08:09... telat 9 menit... dan telat 29 menit dari kebiasaanku. Sarapan terlewat karena tak ada waktu lagi..hehehe

Masuk ruangan....
Aku simpan tas, merapihkan berkas-berkas kerja, dan aku ambil alat tulis..... 'N than kutulis cerita yang didalamnya aku tersenyum sendiri..

Bandung, 03 Januari 2012

Rabu, 30 November 2011

Pagi Bertemankan Rintik Hujan

Pagi ini sang mentari sendu, tak ada sinar yang terpancar darinya
Bahkan sejak subuh tadi derai kejernihan embun terganti oleh hujan
Hujan perlahan turun temani langkahku di subuh itu
Langkah penyucian jiwa serta ragaku

Bersimpuh di hadapan Ilahi Rabbi yang kadang aku lalaikan
Sungguh suatu kebodohan yang nyata saat Sang Pemilik jiwa kita abaikan
Taubat telah Rasul ajarkan dan contohkan
Sungguh Surga yang Allah janjikan bagi yang mau melakukannya

Hujan jadi saksi pentaubatanku
Semoga menjadi taubatan Nasuha.... Amiin
Rintik hujan ini akan jadi pengingatku saat kemalasan dan syetan datang menggoda
Innallah Yuhibbuttawaabiina...
Sesunggguhnya Allah Mencintai Orang-orang yang bertaubat.

Rabu, 23 November 2011

Masih haruskah berpacaran?

Oleh, Ahmad SaHid

Allah akan memberikan jodoh pada kita di saat yang tepat. Bukan sesuai dengan keinginan kita. Seringnya kita menginginkan sesuatu hanya berdasarkan pada keinginan bukan pada kebutuhan. Allah Maha Tahu, kapan kita akan siap untuk menerima sebuah tanggung jawab besar untuk membentuk suatu peradaban kecil yang dimulai dari sebuah keluarga.Allah memberikan rizki sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya dan di waktu yang menurut Allah terbaik untuk kita mendapatkannya. Jodoh adalah salah satu rizki yang Allah persiapkan untuk kita.

Karena menikah bukan hanya penyatuan dua insan berbeda dalam satu bahtera tanpa visi dan tujuan yang pasti, berlayar tanpa arah atau berlayar hanya menuju samudera duniawi.

Menikah adalah penggenapan setengah agama karena menikah adalah sarana ibadah kepada Allah. Dalam tiap perbuatan di dalam rumah tangga dengan berdasarkan keikhlasan dan ketaqwaan maka ganjarannya adalah pahala. Tapi jika menikah hanya berdasarkan nafsu atau bahkan mengikuti perputaran kehidupan dunia, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang diniatkan.

Karena menikah adalah ibadah. Menikah adalah sunnah dianjurkan Rasulullah saw. Menimbun pahala yang terserak di dalam rumah tangga. Dan semua manusia yang normal pasti akan mendambakan suatu pernikahan. Merasakan suatu episode hidup dimana kita akan memulai segala sesuatu yang baru. Yang dahulu kita berperan sebagai seorang anak dengan berbagai kebahagiaan bermandikan kasih sayang orang tua. Maka menikah adalah suatu gerbang menuju pembelajaran menjadi orang tua kelak. Kita bukan lagi sebagai penumpang dimana mengikuti arah kehidupan yang ditentukan orang tua, melainkan kita akan menjadi driver untuk kehidupan kita sendiri kelak. Kita bisa saja mengikuti jalur yang telah dilewati orang tua, jika memang itu jalur yang tepat. Tapi jika jalur itu tak sesuai dengan arah tujuan kehidupan rumah tangga kita yaitu jalur keridhoan Allah, maka kita pun harus mencari jalur yang tepat.

Karena menikah itu adalah satu kebaikan maka seharusnya harus dimulai dengan yang baik pula. Misalnya, ketika kita ingin lulus ujian, maka kita harus belajar yang giat bukan bermalas-malasan.

Ayat Allah masih jelas tertera dalam kitabNya, bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula dan sebaliknya. Dan ayat itu masih sama dengan pada saat Allah turunkan beribu tahun yang lalu. Janji Allah pun tergambar melalui ayat itu dan Allah Maha Menepati janji. Lalu mengapa kita masih meragukan janji Allah itu?


Masih haruskah berpacaran?

Mengenal lawan jenis dengan dalih untuk mengenal pribadi masing-masing. Padahal kenyataannya, hanya sedikit kejujuran yang ditampakkan pada saat pacaran. Rasa takut yang besar untuk ditinggal pasangannya atau hendak mengambil hati pasangannya membuat mereka menyembunyikan keburukan yang terdapat dalam dirinya.

Sudah menjadi rahasia umum, jika usia pacaran yang lama tak menjamin bahwa itu menjadi suatu jalan untuk memuluskan hubungan menuju jenjang pernikahan. Sudah tak menjamin adanya pernikahan setelah sekian lama menjalin masa pacaran, juga banyak dibumbui pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah. Maksiat yang terasa nikmat.

Zaman sekarang, berpacaran sudah selayaknya menjadi pasangan Suami Istri. Si Pria seolah menjadi hak milik wanita dan Si Wanita kepunyaan pribadi Si Pria. Merekapun bebas melakukan apapun sesuai keinginan mereka.

Yang terparah adalah sudah hilangnya rasa malu ketika melakukan hubungan Suami Istri dengan Sang Pacar yang notabene bukan mahram. Padahal pengesahan hubungan berpacaran hanya berupa ucapan yang biasa disebut “nembak” misalnya “I Love You, maukah kau menjadi pacarku” dan diterima dengan ucapan “I Love You too, aku mau jadi pacarmu.” Atau sejenisnya. Hanya itu. Tanpa adanya perjanjian yang kuat (mitsaqan ghaliza) antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Tanpa adanya akad yang menghalalkan hubungan tersebut.

Hubungan pacaran tak ada pertanggungjawaban kecuali pelanggaran terhadap aturan Allah. Karena tak ada yang namanya pacaran islami, pacaran sehat atau apalah namanya untuk melegalkan hubungan tersebut.

Kita berlelah melakukan hubungan pacaran. Melakukan apapun guna menyenangkan hati Sang Kekasih (yang belum halal) meskipun hati kita menolak. Jungkir balik kita mempermainkan hati. Hingga suka dan sedih karena cinta, cinta terlarang. Hati dan otak dipenuhi hanya dengan masalah cinta. Kita menangis karena cinta, kita tertawa karena cinta, kita meraung-meraung ditinggal cinta, kita pun mengemis cinta. Hingga tak ada tempat untuk otak memikirkan hal positif lainnya.

Tapi sayang, itu hanya cinta semu. Sesuatu yang semu adalah kesia-siaan. Kita berkorban mengatasnamakan cinta semu. Seorang pacar, hebatnya bisa menggantikan prioritas seorang anak untuk menghormati orangtua. Tak sedikit yang lebih senang berdua-duaan dengan Sang Pacar dibanding menemani orangtua.

Pacar bisa jadi lebih tau sedang dimana seorang anak dibanding orangtuanya sendiri. Seseorang akan rela menyenangkan hati pacarnya untuk dibelikan sesuatu yang disuka dibandingkan memberikan kejutan untuk seorang Ibu yang melahirkannya. Seseorang akan lebih menurut pada perintah Sang Pacar dibanding orangtuanya. Hubungan yang baru terjalin bisa menggantikan hubungan lahiriyah dan bathiniyah seorang anak dengan orangtua.

Jikapun akhirnya menikah, maka tak ada lagi sesuatu yang spesial untuk dipersembahkan pada pasangannya. Sebuah rasa yang seharusnya diperuntukkan untuk pasangannya karena telah diumbar sebelumnya, maka akan menjadi hal yang biasa. Tak ada lagi rasa “greget” karena masing-masing telah mendapatkan apa yang diinginkan pada masa berpacaran. Bisa jadi, akibat mendapatkan sesuatu belum pada waktunya maka ikrar suci pernikahan bukan menjadi sesuatu yang sakral dan mudah

dipermainkan. Naudzubillah.

Parahnya jika tiba-tiba hubungan pacaran itu kandas, hanya dengan sebuah kata “PUTUS” maka kebanyakan akan menjadi sebuah permusuhan. Apalagi jika disebabkan hal yang kurang baik misalnya perselingkuhan. Kembali hati yang menanggung akibatnya. Kesedihan yang berlebihan hingga beberapa lama. Hati yang terlanjur memendam benci.

Tak sedikit yang teramat merasakan patah hati dikarenakan cinta berlebihan menyebabkannya sakit secara fisik dan psikis. Juga ada beberapa kasus bunuh diri karena tak kuat menahan kesedihan akibat patah hati.

Terdengar berlebihan. Tapi itulah kenyataannya, hati adalah suatu organ yang sensitif. Bisa naik secara drastis, tak jarang bisa jatuh langsung menghantam ke bumi. Apa yang dirasakan hati akan terlihat pada sikap dan prilaku. Hati yang terpenuhi nafsu akan enggan menerima hal baik.

Ada orang bilang, jangan pernah bermain dengan hati. Karena dari mata turun ke hati, kemudian tak akan turun kembali. Akan ada sebuah rasa akan mengendap di dalam hati. Jika rasa itu baik dan ditujukan pada seseorang yang halal (Suami atau Istri) maka kebaikan akan terpancar secara lahiriyah. Bukan sebuah melankolisme yang kini merajalela.

Banyak pelajaran dari sekitar. Kenapa masih harus berpacaran?

Karena ingin ada teman yang selalu setia mendengar tiap keluh kesah? Tak selamanya manusia bisa dengan rela mendengarkan keluhan manusia lainnya. Hanya Allah yang tak pernah berpaling untuk hambaNya. Bisa jadi secara fisik Sang Pacar rela mendengar dengan seksama, tapi dia juga manusia yang akan merasa bosan jika selalu dicecoki dengan berbagai keluhan.


Malu dibilang jomblo?

Jika dengan jomblo kita bisa terbebas dari rasa yang terlarang, kenapa harus malu? Justru kita akan merasa nyaman bercengkerama dengan Allah karena sadar hati kita hanya patut ditujukan kepadaNya bukan yang lain. Justru kita harus bangga, di saat yang lain berlomba untuk melakukan hal terlarang tapi kita menjauhinya. Kemudian tak akan ada perasaan was-was karena telah melanggar aturan Allah. Kita bebas berkumpul dengan kawan-kawan tanpa ada kekangan dari orang yang sesungguhnya tak memiliki kewenangan terhadap diri kita.

Mungkin masih banyak lagi kesia-siaan dalam berpacaran. Dan sesungguhnya belum tentu Sang Pacar akan menjadi pasangan kita kelak.

Pacaran ibarat minuman beralkohol, banyak yang mengelak bahwa dengan berpacaran mereka memiliki semangat baru dan sederet hal positif yang mereka kumandangkan. Tapi sama halnya dengan alkohol, maka manfaat yang didapat jauh lebih kecil dibanding kemudharatan yang dihasilkan. Karena segala sesuatu yang dilarang Allah, pasti ada sebab dan manfaatnya.

Kemudian ada yang berdalih, toh pacaran itu tidak merugikan orang lain. Tidak merugikan orang lain, namun hukum Allah jauh lebih baik untuk diikuti ketimbang menurutkan hawa nafsu yang berakhir pada jurang kebinasaan.

Kembali ke pernikahan, suatu kebaikan maka tak pantas jika diawali dengan keburukan. Allah tak akan ingkar janji, karena jodoh telah Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh. Tinggal kita melakukan usaha yang baik, yang Allah ridhoi. Supaya tiap langkah kita, hanya berisi keridhoan Allah dan mendapat keberkahan-Nya. Aamiin.