Minggu, 31 Juli 2011

Kasih Itu Sungguh Penuh Ketulusan


Sumber: Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras terjun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Baik kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.


Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti badai hujan yang membentu banjir bandang.

Senin, 25 April 2011

14 Juni 2010


Untuk yang terkasih...

@ku tuliskan kerinduan di atas secari kertas yang kau titipkan di siang itu...
Saat awan tersenyum dan langit memancarkan keindahannya...
Walau udara panas memayungi dua insan yang dilanda rindu.
Namun, Tuhan Maha Adil.
Di atas panas itu terdapat sejuk yang tiada terkira.
Hatiku sejuk...
Mungkin juga dengan hatimu...
Karena, di sampingku ada matahari yang melindungiku dari matahari.
Siang itu, aku titip rindu pada hatimu.
Walau saat itu tak ada kata terucap.
Namun, bahasa tubuhku senantiasa dapat kau baca,
dan kau dapat melihat semua ketulusan di kedalaman mataku.
Gambar dipinjam dari sini.

Selasa, 05 April 2011

R-O-S-E


Oleh: Ahmad SaHid

Putih helaimu dalam gelap rose.....
ah, Salah.
aku jadi bingung.
mengapa harus kata Rose yang muncul?
kenapa tidak kata lain saja.
kata Rose aku gunakan untuk sebuah nama, aku tidak suka.
sebagai makna aslinya bunga pun, aku tidak tertarik.

Rose maafkan aku, karena aku tidak menyukaimu. Bukan kau yang sedang ingin aku tulis, tapi aku juga tidak tau. Rasanya aku jadi sesak saat menuliskan namamu.
Rose, aku eja R-O-S-E..........
Oh sepertinya aku lebih suka mengeja kata H-E-S-E
aku baca Hese!

Senin, 04 April 2011

Menanti Ketulusan



Oleh: Ahmad Saepul Hidayat

Jauh aku memandang, menyelami dalamnya danau di hadapanku. bersama sahabat setiaku kala kepedihan ini hadir, hanya dia sahabat setiaku yang selalu ada di bibir asbak itu.

Semakin jauh aku melempar pandanganku, mencari sosok dalam kabut tipis di sebrang danau itu. kembali ku sambut sahabat ku yang sedari tadi terjepit di sudut asbak, kuhirup, lalu hangatkan tubuhku.

Hemmmm,,,,
Hatiku kini tenang setenang air danau tanpa riak dan deras. tiba-tiba ardenalinku beranjak menangkap sosok sahabat lama yang menyapaku dari jauh. sahabat yang bertahun-tahun tak pernah lagi hadir di hatiku apa lagi di sampingku.
Dia kembali dengan ketulusannya....

Perhatian


Oleh: Ahmad Saepul Hidayat

Perhatian adalah ketika kamu mengayuh sepeda di pagi hari menuju sekolah, kantor, dan tujuan lainnya.
Perhatian adalah saat mataku selalu mengikuti tiap langkah dan tingkahmu.
Kepudaran perasaanku membuat kau berupaya mengembalikan keasalnya yang tak pudar dengan segala semangatmu yang ada itu adalah perhatian.
Segala upaya atas keegoisanku yang membuatmu mengubah perasaanmu padaku adalah perhatian.
Perhatian adalah keberadaan aku dalam hatimu yang membuat langkahmu terarah.
Perhatian adalah upayamu membekukan kebebasanku.

Selasa, 22 Maret 2011

Waiting


Oleh: Ahmad SaHid

Senja siap tergantikan malam, aQ masih tetap di sini bersama dedaunan yang berserakan, tetap dalam perihnya qalbu dan gundahnya jiwa.
Rasa yang terus menyiksaku dengan segenap perihnya selalu setia menemaniku dan akan aQ jaga hingga kau berada bersamaku tanpa jarak terbentang memisahkan aQ denganmu.
Perjumpaan tak selamanya buat dua insan bahagia, ceria, dan gembira. tanpa kesadaran yang dihadirkan oleh keduanya, perjumpaan itu akan tetap sia-sia tak bermakna.
Makna kebahagiaan kadang sulit ditemukan atau memang tak harus ditemukan karena kebahagiaan sebenarnya selalu bersama setiap insan... atau di mana dan seperti apa.. I will always wait you. :-)

Minggu, 20 Maret 2011

Perjalanan

Oleh: Ahmad Saepul Hidayat

Pagi berembun, mentari bersinar, siang berterik, sore bersenja, dan angin pun berhembus kencang dengan sekencang-kencangnya hingga dedaunan tak sanggup lagi bertahan pada ranting yang terombang-ambing. Gelegar petir bersambaran bersama kilatannya menemani langkah kaki yang terus terayun mencari sebuah tujuan yang hingga kini tetap dalam pencarian.
Badai terus menghadang, datang silih berganti membekukan semangat yang berkobar milik setiap insan. Namun, tidak dengan dia.

to be continued....