Oleh: Ahmad Saepul Hidayat, S.S
Editor Ahli Lugowiya Press
Pada percakapan sehari-hari kita sering mendengar kata-kata seperti ‘
ane’ dan ‘
ente’ diucapkan. Kedua kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Arab dan mempunyai arti yang sama dalam bahasa Indonesia, yaitu aku dan kamu. Dalam kaidah bahasa Arab, kata ganti seperti kedua kata di atas dinamakan dengan
isim dhomir. Inilah langkah pertama yang akan kita pelajari, yaitu mengenal
isim dhomir atau kata ganti dalam bahasa Arab.
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal tiga jenis kata ganti; Kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti orang ketiga. Kata ganti orang pertama ada dua bentuk, yaitu aku dan kami atau kita, kata ganti orang kedua ada dua bentuk, yaitu kamu dan kalian, dan kata ganti orang ketiga memiliki dua bentuk pula yaitu dia dan mereka. Sehingga kata ganti dalam bahasa Indonesia berjumlah enam kata.
Bahasa Arab memiliki tiga jenis kata ganti pula; kata ganti orang pertama, dinamakan
mutakallim (orang yang berbicara), kata ganti orang kedua, dinamakan
mukhĂ´tob (orang yang diajak berbicara), dan kata ganti orang ketiga, dinamakan
ghoib (orang yang dibicarakan). Adapun bentuk kata ganti dalam bahasa Arab lebih variatif dan lebih banyak dibanding bahasa Indonesia. Jika bentuk kata ganti dalam bahasa Indonesia hanya berjumlah enam kata, maka bahasa Arab memiliki empat belas bentuk.
Perbedaan banyaknya bentuk
dhomir ini dikarenakan dalam bahasa Arab pada kata ganti orang kedua dan ketiga, penyebutan untuk laki-laki dan perempuan dibedakan, juga ada bentuk
tatsniyah (dua orang), di antara bentuk tunggal dan plural (
jamak). Jika dalam bahasa Indonesia bentuk jamak digunakan untuk lebih dari satu orang, maka dalam bahasa Arab digunakan untuk penyebutan lebih dari dua orang. Sedangkan untuk dua orang menggunakan bentuk
tatsniyah. Ke-empat belas kata ganti atau
dhomir tersebut adalah sebagai berikut:

Dapat dilihat dalam bagan di atas, bahwa kata ganti orang pertama (
mutakallim) antara laki-laki dan perempuan tidak dibedakan, juga tidak ada bentuk dua orang. Sedangkan pada bentuk orang kedua dan ketiga (
mukhotob dan
ghoib) antara penyebutan untuk laki-laki dan perempuan dibedakan, juga ada bentuk dua orang di antara bentuk tunggal dan jamak, artinya bentuk jamak dalam bahasa Arab dimulai dari tiga orang.
Untuk lebih memudahkan dalam mengingat ke-empat belas bentuk
dhomir ini, kita dapat mengaplikasikan rumus ruas jari tangan yang semuanya berjumlah sama yaitu empat belas ruas.
Untuk dhomir
mutakallim menggunakan ibu jari atau jempol, karena jempol hanya memiliki dua ruas, sama seperti
dhomir mutakallim yang memiliki dua bentuk.
Dhomir mukhotob menggunakan telunjuk dan jari tengah. Serta untuk
dhomir ghoib menggunakan jari manis dan kelingking. Karena dari jari telunjuk sampai kelingking masing-masing memiliki tiga ruas, sesuai dengan kedua jenis dhomir tersebut yang masing-masing memiliki enam bentuk; tiga bentuk
mudzakkar (laki-laki) dan tiga
mu’annats (perempuan).
Perhatikan gambar di bawah ini.